Fenomena ditemukannya lekuk menyerupai jejak manusia berukuran sangat besar di kawasan pesisir sering kali memicu antara mitos rakyat dan analisis geologi yang ilmiah. Secara visual, bentuk tersebut memang terlihat sangat mirip dengan cetakan kaki, lengkap dengan bagian tumit dan jemari yang proporsional namun dalam dimensi yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia normal. Namun, ilmu kebumian memberikan perspektif berbeda, di mana bentuk-bentuk unik tersebut sering kali merupakan hasil dari proses erosi pencampuran dan abrasi udara laut yang bekerja secara terus-menerus selama ribuan hingga jutaan tahun pada batuan sedimen yang memiliki tingkat kekerasan tidak merata.
Dalam analisis geologi , proses pembentukan “jejak” ini biasanya berkaitan dengan fenomena lubang atau lubang gerusan yang terjadi akibat pusaran udara yang membawa material keras seperti kerikil dan pasir. Pusaran ini secara perlahan mengikis permukaan batu hingga membentuk cekungan bulat atau lonjong. Jika komposisi mineral pada batuan tersebut memiliki retakan alami yang menyerupai pola anatomi kaki, maka erosi akan mengikuti alur retakan tersebut hingga terciptalah bentuk yang menipu mata manusia. Kesimpulan geologi ini didasarkan pada pemeriksaan mikroskopis terhadap kristal mineral di sekitar pemeriksaan yang tidak menunjukkan adanya tekanan beban organik yang besar.
Penelitian lebih lanjut dalam analisis geologi juga mempertimbangkan kemungkinan adanya fosil sisa aktivitas organisme purba, meskipun ukuran raksasa kemungkinannya sangat kecil. Namun jejak-jejak tersebut sering kali ditemukan pada jenis batuan andesit atau basal yang membeku dari lava cair. Saat lava mendingin, ia bisa menyusut dan membentuk pola rekahan kolom yang unik, yang jika terkena kikisan ombak secara terus-menerus akan menyisakan bagian yang terlihat seperti cetakan kaki. Interpretasi ini jauh lebih logistik secara sains dibandingkan dengan teori tentang keberadaan manusia raksasa yang tidak didukung oleh temuan kerangka tulang belulang yang sesuai di lapisan tanah mana pun.
Selain faktor alamiah, analisis geologi juga sering menemukan bahwa beberapa “jejak” tersebut merupakan artefak hasil pahatan manusia di masa lampau yang digunakan untuk menandai wilayah atau sebagai simbol pemujaan tertentu. Dalam kasus ini, para ahli akan melihat adanya bekas pengerjaan alat tajam pada dinding cekungan yang tidak ditemukan pada proses erosi alami. Membedakan antara bentukan alam murni dengan buatan manusia memerlukan ketelitian dalam melihat sedimentasi dan lapisan lumut purba yang menutupinya. Pengetahuan geologi membantu kita memisahkan antara kekayaan imajinasi budaya dengan kenyataan fisik yang terjadi di kerak bumi secara objektif dan sistematis.