Kepedulian terhadap lingkungan hidup semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat Aceh Selatan, terutama dalam momen-momen sakral seperti bulan Ramadan. Memasuki tahun 2026, muncul sebuah inisiatif progresif yang dikenal dengan gerakan buka puasa tanpa sampah plastik. Gerakan ini lahir dari kesadaran kolektif akan bahaya tumpukan sampah plastik sekali pakai yang biasanya melonjak tajam selama bulan puasa akibat penggunaan kemasan takjil dan makanan berbuka. Masyarakat kini mulai beralih menggunakan wadah ramah lingkungan dan membawa perlengkapan makan sendiri sebagai bagian dari bentuk ibadah menjaga kelestarian bumi ciptaan Tuhan.
Penerapan konsep buka puasa ramah lingkungan ini terlihat jelas di berbagai masjid dan pusat jajanan takjil di Aceh Selatan. Para penjual makanan mulai didorong untuk menggunakan pembungkus alami seperti daun pisang, daun jati, atau wadah berbahan serat singkong yang mudah terurai. Di tingkat rumah tangga, warga diajak untuk menghindari penggunaan air minum dalam kemasan plastik dan menggantinya dengan menyediakan teko atau galon air di tempat-tempat umum. Kampanye ini tidak hanya mengurangi volume sampah secara drastis, tetapi juga mengembalikan nilai estetika penyajian makanan tradisional yang jauh lebih sehat dan alami tanpa kontaminasi zat kimia dari plastik.
Selain pengurangan fisik sampah, gerakan buka puasa ini juga membawa misi edukasi bagi anak-anak sejak usia dini. Di sekolah-sekolah dan pengajian, para guru menekankan bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman yang harus dipraktikkan secara nyata. Ramadan menjadi waktu latihan yang tepat untuk disiplin dalam mengelola limbah rumah tangga. Banyak komunitas anak muda di Aceh Selatan yang secara sukarela melakukan aksi bersih-bersih pantai dan sungai setelah waktu berbuka untuk memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Sinergi antara spiritualitas dan ekologi ini menciptakan suasana Ramadan yang lebih bermakna dan berdampak positif bagi masa depan wilayah tersebut.
Pemerintah daerah Aceh Selatan di tahun 2026 turut mendukung gerakan ini dengan menyediakan fasilitas pengolahan kompos di sekitar pasar-pasar Ramadan. Sisa makanan organik dari sisa buka puasa dikumpulkan untuk dijadikan pupuk, sehingga menciptakan sistem ekonomi sirkular yang bermanfaat bagi para petani lokal. Upaya ini membuktikan bahwa perubahan perilaku dalam skala besar dapat terjadi jika dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Keberhasilan Aceh Selatan dalam menekan angka penggunaan plastik sekali pakai selama Ramadan kini mulai menjadi inspirasi bagi kabupaten lain di Aceh dan sekitarnya untuk menerapkan langkah serupa demi kelestarian alam.