Barisan Tani Indonesia atau BTI memiliki peran strategis dalam sejarah pendidikan nonformal di pedesaan Nusantara pada masa pascakemerdekaan. Organisasi ini menyadari bahwa ketertinggalan ekonomi petani berakar pada rendahnya tingkat pendidikan. Oleh karena itu, program pemberantasan Buta Huruf menjadi prioritas utama untuk meningkatkan kesadaran politik dan sosial para kaum tani.
Strategi yang digunakan sangat unik karena menggabungkan kegiatan belajar mengajar dengan aktivitas pertanian sehari-hari di lapangan. Para kader organisasi terjun langsung ke sawah dan ladang untuk mengajarkan baca tulis saat waktu istirahat tiba. Upaya menghapus Buta Huruf ini dilakukan secara sukarela tanpa membebani petani dengan biaya pendidikan formal yang mahal.
Metode pembelajaran yang diterapkan menggunakan pendekatan praktis dengan istilah-istilah yang akrab dalam kehidupan agraris para peserta didik. Mereka belajar mengenal huruf melalui kata-kata seperti “padi”, “cangkul”, dan “tanah” agar lebih mudah diingat. Keberhasilan menuntaskan Buta Huruf di desa-desa secara signifikan meningkatkan daya tawar petani terhadap praktik tengkulak yang curang.
BTI juga menerbitkan berbagai selebaran dan koran sederhana yang dirancang khusus untuk pembaca pemula di tingkat akar rumput. Bahan bacaan ini berisi informasi mengenai teknik pertanian modern serta hak-hak atas kepemilikan tanah. Dengan hilangnya Buta Huruf, para petani mulai berani membaca kontrak dan surat-surat resmi yang sebelumnya sering dimanipulasi.
Pemerintah saat itu memberikan dukungan melalui kampanye literasi nasional yang sejalan dengan semangat revolusi mencerdaskan kehidupan bangsa. Kolaborasi antara organisasi massa dan instansi negara mempercepat distribusi alat tulis ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Program Buta Huruf ini menjadi bukti bahwa pendidikan bisa diakses oleh siapa saja tanpa batas ruang kelas.
Namun, gerakan literasi ini bukan tanpa hambatan karena keterbatasan jumlah tenaga pengajar yang bersedia menetap di pelosok desa. Banyak kader harus menempuh perjalanan jauh dengan fasilitas seadanya demi memastikan setiap petani bisa menulis namanya sendiri. Semangat melawan Buta Huruf adalah bentuk perlawanan terhadap kebodohan yang selama berabad-abad dipelihara oleh sistem kolonial.
Selain kemampuan membaca, program ini juga menyisipkan pendidikan kewarganegaraan untuk memperkuat rasa nasionalisme di kalangan masyarakat agraris. Petani yang dulunya terisolasi mulai memahami dinamika politik nasional dan internasional melalui diskusi-diskusi kelompok kecil. Dampak pemberantasan Buta Huruf menciptakan lapisan masyarakat pedesaan yang lebih kritis dan tidak mudah diprovokasi.